Prinsip Nasionalisme - Pemikiran Bung Karno

11.18.2014 0 comments



Pidato Bung Karno Sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai, 1 Juni 1945
(Bagian pertama)

Nasionalisme adalah - Prinsip nasionalisme - Dasar Nasionalisme

Dalam kesempatan ini saya mengajukan prinsip nasionalisme sebagai salah satu prinsip penting dalam  Indonesia Merdeka.

Banyak yang menilai prinsip nasionalisme atau kebangsaan itu berbahaya. Saya juga ingin mengatakan bahwa prinsip kebangsaan ini ada bahayanya. Bahayanya ialah mungkin orang meruncingkan nasionalisme menjadi chauvinisme, sehingga berfaham “Indonesia uber Alles" (Indonesia adalah paling baik).

Inilah bahayanya! Kita cinta tanah air yang satu, merasa berbangsa yang satu, mempunyai bahasa yang satu. Dan ujungnya membuat kita tertutup dan arogan. Itu akan membuat kita menjadi hanya tahu satu negeri dan satu bangsa, dan menolak berhubungan serta menghormati bangsa lain.

Tetapi ingatlah Tanah Air kita Indonesia hanya satu bahagian kecil saja dari pada dunia! Ingatlah akan hal ini! Gandhi berkata: Saya seorang nasionalis, tetapi kebangsaan saya adalah perikemanusiaan (My nationalism is humanity) Kebangsaan yang kita anjurkan bukan kebangsaan yang menyendiri, bukan chauvinisme, sebagai dikobar-kobarkan orang di Eropah, yang mengatakan “Deutschland uber Alles."

Lalu muncul rasa kebanggaan pada diri sendiri seperti bangsa Jerman yang mengklaim diri paling tinggi, tidak ada yang setinggi Jermania. Muncullah arogansi, yang katanya, bangsanya paling mulia, berambut jagung dan bermata biru, “bangsa Aria", yang dianggapnya tertinggi diatas dunia, sedang bangsa lain rendah dan tidak ada harganya.

Jangan kita berdiri di atas azas demikian, Tuan-tuan, jangan berkata, bahwa bangsa Indonesialah yang terbagus dan termulia, serta meremehkan bangsa lain. Kita harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia. Kita bukan saja harus mendirikan negara Indonesia Merdeka, tetapi kita harus menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa.

Justru inilah prinsip saya setelah nasionalisme tadi. Inilah filosofisch principe yang berikutnya, yaitu prinsip internasionalisme. Tetapi jikalau saya katakan internasionalisme, bukanlah saya bermaksud  kosmopolitisme. Sebab pandangan kosmopolitisme menolak adanya kebangsaan, kelompok kosmopolitisme akan mengatakan tidak ada Indonesia, tidak ada Nippon, tidak ada Birma, tidak ada Inggris, tidak ada Amerika, dan lain-lainnya.

Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman-sarinya internasionalisme. Jadi, dua hal ini, saudara-saudara, yang saya usulkan yaitu: nasionalisme dan internasionalisme. Keduanya, bergandengan erat satu sama lain.


Prinsip Nasionalisme - Pemikiran Bung Karno

12 Kutipan Inspirasi Tokoh Dunia Calender BCA Insurance 2014

11.17.2014 0 comments

 Quote Tokoh Dunia Calender BCA Insurance 2014

1. Januari
Kemerdekaan tanpa pembelajaran selalu berbahaya dan pembelajaran tanpa kebebasan selalau sia-sia. (John F. Kennedy)

2. Februari
Anda mungkin bisa menunda, tetapi waktu tidak bisa (Aristoteles)

3. Maret
Lebih pedulilah dengan karakter Anda daripada reputasi. Karakter menunjukkan siapa Anda yang sebenarnya. Sementara reputasi hanya apa yang orang pikirkan tentang Anda (Dale Carnegie)

Tokoh Inspiratif Quote Dale Carnegie


4. April
Setiap kesuksesan hanyalah tiket menuju sebuah masalah yang lebih sulit (Henry Kissinger)

5. Mei
Pendidikan adalah senjata paling dahsyat yang dapat kita gunakan untuk mengubah dunia (Nelson Mandala)

6. Juni
Jika alat yang Anda miliki hanyalah palu, maka Anda cenderung melihat setiap masalah sebagai palu (Abraham Maslow)

7. Juli
Bukan makhluk terkuat atau terpintar yang akan bertahan, tetapi justru yang paling tanggap terhadap perubahan (Anonim)

8. Agustus
Kata-kata yang baik memang pendek dan mudah diucapkan, tetapi akan terus bergema (Bunda Teresa)

9. September
Bila Anda gagal melakukan persiapan, artinya Anda mempersiapkan diri untuk menjadi gagal (benyamin Franklin)

10. Oktober
Jika Anda jujur, tidak perlu susah mengingat (Mark Twain)

11. November
Siapa berani membuang-buang waktu barang satu jam saja, maka ia belum mampu menemukan makna hidup yang sebenarnya (Charles Darwin)

12. Desember
Orang yang cukup gila untuk berpikir bahwa ia bisa mengubah dunia, biasanya adalah orang yang memang mengubah dunia (Stave Jobs)


Saran buat BCA Insurance mencantumkan quote tokoh Indonesia. Pemikiran dan prinsip tokoh kita juga tidak kalah menginspirasinya. 12 Kutipan Tokoh Dunia Calender BCA Insurance 2014.


Islam Sontoloyo - Tulisan Bung Karno

11.15.2014 0 comments

Di dalam surat kabar “pemandangan” 8 April yang lalu saja membaca suatu perkabaran yang ganjil : seorang guru agama dijebloskan ke dalam penjara bui tahanan karena ia memperkosa kehormatan salah satu seorang muridnya yang masih gadis kecil. Bahwa orang dijebloskan kedalam tahanan kalau ia memperkosa gadis, itu tidaklah ganjil. Dan tidak terlalu ganjil pula kalau seorang guru memperkosa seorang muridnya. Bukan karena ini perbuatan tidak bersifat kebinatangan, jauh dari itu, tetapi oleh karena memandang kadang-kadang terjadi kebinatangan yang semacam itu. Yang saya katakan ganjil ialah caranya si guru itu “menghalalkan” ia punya perbuatan. Cobalah tuan baca yang berikut ini, yang saya ambil over dari “Pemandangan” tadi itu:

Keterangan lain-lain mengenai akalnya guru itu mempengaruhi murid-muridnya; kepada tiap-tiap yang menjadi murid diobroli bahwa ia pernah bicara pada Nabi Besar Muhammad s.a.w, lalu masing-masing diajarnya untuk mendekati Allah tiap-tiap malam jumat berzikir sejak magrib sehingga subuh, dengan permulaan berseru ramai-ramai “Saya muridnya Kiyai Anu” dengan seruan ini katanya supaya terkenal dan Allah mengampuni dosanya.

Tiap-tiap murid perempuan, meskipun masih kanak-kanak musti ditutup mukanya, jikalau waktu pertemuan malam Jumat golongan perempuan dipisahkan dalam rumah, untuk murid lelaki spesial didalam langgar. Kiyai itu menerangkan dalam ajaranya: “perempuan itu boleh disedekah” Artinya demikian : Sebagai diatas ditegaskan, murid-murid perempuan itu meskipun masih kanak-kanak, musti ditutupi mukanya karena haram di lihat oleh lelaki lain yang bukan suaminya, katanya.

Tetapi dari sebab perempuan-perempuan itu perlu diajar olehnya dan musti bertemuan dan beromong-omong, maka murid-murid perempuan itu“dimahram dahulu”, kata guru itu. Artinya: Perempuan-perempuan itu musti dinikahi olehnya.

Yang jadi kiyainya ia juga, yang jadi pengantinnya ia juga.

Caranya demikian : Kalau seorang murid laki-laki yang mempunyai isteri yang jadi muridnya juga, istrinya itu dihadapan dia lantas menjatuhkan talaqnya tiga. Seketika juga perempuan dinikahi dengan lain lelaki (kawan muridnya) sehingga tiga lelaki dalam seketika itu juga berturut-turut tiga kali dinikahi dan diceraikan lagi, keempat kalinya dinikahi olenya sendiri.

Kecuali janda atau gadis, tidak dinikahkan dengan lain orang, tetapi langsung dinikahkan dengan Dadjal sendiri. Dengan cara demikian tiap-tiap istri yang  jadi muridnya  berarti istrinya dari pada Dadjal tersebut dalam pemandangan golongan mereka.

Demikianlah cara yang demikian ini berlaku juga dengan gadis yang jadi perkara ini, oleh karena gadis itu sudah diharamkan oleh guru itu. Demikianlah, maka pada satu hari gadis ini dipikat oleh guru itu masuk kedalam satu rumah, dan disitulah ia dirusak kehormatannya, halal, syah, oleh karena sudah istrinya!

Sungguh, kalau reportase di surat kabar “pemandangan” itu benar, maka benar-benarlah disini kita melihat Islam Sontoloyo! Sesuatu perbuatan dosa dihalalkan menurut hukum fiqih. Tak ubahnya dengan tukang merentekan uang yang “menghalalkan” ribanya itu dengan cara berjual beli sesuatu barang dengan orang yang mau meminjam uang dari padanya. Tahukah tuan cara tukang riba itu menghalalkan ia punya pekerjaan riba? Tuan mau pinjam uang dari pada f 100,-, dan sanggup bayar habis bulan f 120,-. Ia mengambil sehelai kain, atau sebuah kursi, atau cincin, ataupun sebuah batu, dan ia jual barang itu “op credit” kepada tuan dengan harga f120,-. ”Tidak usah bayar kontan, habis bulan saja bayar f 120,-itu”. Itu kain atau kursi atau cincin atau batu kini sudah menjadi milik tuan karena sudah tuan beli, walaupun “op credit”. Lantas ia beli kembali barang itu dari tuan dengan harga kontan f 100,-. Accord? Nah inilah tuan terima uang pembelain kontan yang f 100,-itu. Asal tuan jangan lupa : habis bulan tuan bayar tuan punya hutang kredit yang f 120,-itu!

Simpel comme bonjour! Kata orang Perancis, Artinya : tidak ada yang lebih mudah dari ini”!Bukan! Ini bukan riba, ini bukan merentenkan uang, ini dagang, jual beli, halal, syah, tidak dilarang oleh agama!

Benar,ini syah, ini halal, tapi halalnya Islam sontoloyo! Halalnya orang yang mau main kikebu dengan Tuhan, atau orang yang mau main “kucing-kucingan” dengan Tuhan. Dan, kalau mau memakai perkataan yang lebih jitu, halalnya orang yang mau mengabui mata Tuhan!

Seolah-olah Tuhan diabui mata! Seolah-olah agama sudah dipenuhi atau sudah diturut, kalau dilahirkannya syariat saja sudah dikerjakan! Tetapi tidaklah justru yang demikian ini sering sering kita jumpakan?

Tidak justru Islam terlalu menganggap fiqih itu satu-satunya tiang keagamaan. Kita lupa, atau kita tidak mau tahu, bahwa tiang keagamaan ialah terutama sekali terletak didalam ketundukan kita punya jiwa pada Allah. Kita lupa bahwa fiqih itu, walaupun sudah kita saring semurni-murninya, belum mencukupi semua kehendak agama. Belum dapat memenuhi syarat-syarat ke Tuhanan yang sejati, yang juga berhajat kepada Tauhid, kepada Ahlak, kepada kebaktian Rohani, kepada Allah, dan kepada lain-lain lagi.

Dulu dilain tempat,pernah saya menulis : “Adalah seorang “sayid” yang sedikit terpelajar, tetapi ia tak dapat memuaskan saya, karena pengetahuannya tak keluar sedikitpun jua dari “kitab-fiqih” : mati hidup dengan kitab fiqih itu. Qur’an dan Api Islam seakan-akan mati, karena kitab fiqih itu sajalah yang mereka jadikan pedoman hidup, bukan kalam Illahi sendiri Ya, kalau difikirkan dengan dalam-dalam, maka kitab fiqih-kitab fiqih itulah yagn seakan-akan ikut menjadi algojo roh dan semagat Islam. Bisakah, sebagai misal, satu masyarakat menjadi hidup, menjadi bernyawa, menjadi levend, kalau masyarakat itu hanya dialaskan saja kepada Wetboek van strafrecht dan Burgerlijk Wetboek, kepada artikel ini dengan artikel itu? Masyarakat yang demikian itu akan segeralah menjadi masyarakat mati, masyarakat bangkai, masyarakat yang bukan masyarakat. Sebab tandanya masyarakat ialah justru ia punya hidup, ia punya nyawa. Begitu pula, maka dunia Islam sekarang ini setengah mati, tiada Roh, tiada nyawa, tiada api, karena umat Islam sama sekali tenggelam di dalam “kitab fiqihnya”saja, tidak terbang seperti burung garuda diatas udara-udaranya Levend Geloof, yakni udara-udaranya agama yagn hidup”.

Sesudah beberapa kali membaca saya punya tulisan-tulisan di dalam P.I ini, tuan barangkali lantas mengira, bahwa saya adalah membenci fiqih. Saya bukan pembenci fiqih, saya malahan berakta tiada masyarakat Islam dapat berdiri zonder hukum-hukumnya fiqih. Sebagaimana tiada masyarakat satupun dapat berdiri zonder Wetboek van Stafrecht dan Burgerlijk Wetboek, maka begitu juga tiada peri kehidupan Islam dapat ditegakkan zonder wetboeknya fiqih. Saya bukan membenci fiqih, saya hanya membenci orang atau perikehidupan agama yang terlalu mendasarkan diri kepada fiqih itu saja, kepada hukum-hukumnya syariat itu saja.

Dan sungguh, tuan-tuan, pendapat yang begini bukanlah pendapat saya yang picik ini saja, juga Farid Wadji, juga Muhammad Ali, juga Kwada Kamaludin, juga Amir Ali berpendapat begitu. Farid Wadji pernah berpidato dihadapan kaum Orientalis Eropa tentang arti fiqih itu buah peri kehidupan Islam, dan beliau berkata bahwa “kaum Orientalis yang mau mengukur Islam dengan fiqih itu saja, sebenarnya adalah berbuat tidak adil kepada Islam. oleh karena fiqih belum Islam seluruhnya, dan malahan kadang-kadang sudahlah menjadi satu sistem yang bertentangan dengan Islam yang sejati”. Muhammad Ali tidak berhenti-henti berjuang dengan kaum-kaum yang mau membelenggu Islam itu kedalam mereka punya monopoli undang-undang dan Kwaja Kammaludin menulis di dalam ia punya “Evangelie van de Daad”, satu kitab yang dulu saya pernah katakan berlian, dan saya pujikan keras kepada semua orang Islam dan bukan Islam, sebagai berikut : ”Kita hanya ngobrol tentang sembayang dan puasa, dan kita sudah mengira bahwa kita sudah melakukan agama. Khotib-Khotib membuat khotbah rahasia-rahasianya surga dan neraka, atau mereka mengajar kita betapa caranya kita mengambil air wudu’ atau rukun-rukun yang lain, dan itu sudahlah dianggap cukup buat mengerjakan agama. Begitulah jualah keadaannya kitab-kitab agama kita. Tetapi yang demikian itu bukanlah gambaran kita punya agama yang sebenar-benarnya”. “Cobalah kita punya ulama-ulama itu menerangkan kepada dunia wetenschap betapa rupanya ethiek yang diajarakn oleh Qur’an. Maka tidak akan sukarlah bangsa-bangasa Barat ditarik masuk Islam, kalau literatur yang demikian itu disebarkan kemana-mana”.

Dan bagaimana perkataan Sayid Amir Ali? Mempelajari kitab-kitab fiqih tidaklah cukup buat mengenal semangat dan rohnya Islam yang sejati. Malahan kitab-kitab fiqih itu kadang-kadang berisi hal-hal yagn berlawanan dengan Rohnya Islam yang sejati. Dan maukah tuan mendengar pendapatnya orang alim lain yang bukan Islam? Masih ingatkah tuan akan perkataan Prof. Snouch Hurgronje yang saya sitir dalam P.I dua minggu yang lalu? Yang mengatakan, bahwa bukan Qur’an kini yang menjadi wetboek orang Muslim pada umumnya, tetapi apa “dicabutkan ulama-ulama dari segala waktu dari Qur’an itu dan sunnah itu”? Maka ini ulama-ulama dari segala waktu adalah terikat pula kepada ucapan-ucapan ulama-ulama yang dahulu dari mereka, masing-masing di dalam lingkunganya mazhabnya sendiri-sendiri. Mereka hanya dapat memilih antara pendapat-pendapatnya autoritei-autorietei yang terdahulu dari mereka. Maka syariat itu seumumnya akhirnya tergantung pada ijma’ dan tidak kepada maksud-maksudnya firman yang asli. Atau ambilah misalnya lagi pendapat Prof.Tor Andrea! Professor inipun berkata : ”Tiap-tiap agama akhirnya hilang ia punya jiwa yang dinamis, oleh karena pengikut-pengikutnya lebih ingat kepada ia punya wettensysteem saja, dari pada kepada ia punya ajaran jiwa. Islampun tidak terluput dari faham ini.”

Tuan barang  kali berkata, apa kita perlu pusingkan pendapat orang lain? Janganlah tuan berkata begitu. Orang lain sering kali mempunyai pendapat lebih benar diatas agama kita, sering kali mempunyai pendapat yang lebih “onbevangen” diatas agama kita dari pada kita sendiri, oleh karena mereka tidak terikat tradisi fikiran yang mengikat kita, tidak terikat oleh “cinta buta” yang mengikat kita kepada agama kita itu. Lagi pula, benarkah mereka punya pendapat itu bahwa tidak ada orang asing yang benar? Apakah tidak ada orang asing yang tepat di dalam pendapatnya?

Cobalah kita mengambil satu contoh. Islam melarang kita makan daging babi. Islam juga melarang kita menghina kepada si miskin, memakan haknya anak yatim, memfitnah orang lain, menyekutukan Tuhan Yang Maha Esa itu. Malahan yang belakangan ini dikatakan dosa yang terbesar, dosa datuknya dosa. Tetapi apa yang kita lihat? Coba tuan menghina si miskin, makan haknya anak yatim, memfitnah orang lain, musrik didalam tuan punya fikiran dan perbuatan, maka tidak banyak orang yang akan menunjuk kepada tuan dengan jari seraya berkata : tuan menyalahi Islam. Tetapi coba tuan makan daging babi, walaupun hanya sebesar biji asampun dan seluruh dunia akan mengatakan tuan orang kafir! Inilah gambarannya jiwa Isalam sekarang ini : terlalu mementingkan kulit saja, tidak mementingkan isi. Terlalu terikat kepada “uiterlijke vormer” saja, tidak menyala-nyalakan “intrinsieke waarden”. Dulu saya pernah melihat satu kebiasaan di salah satu kota kecil di tanah Priangan. Disitu banyak sundal, banyak bidadari-bidadari yang menyediakan tubuhnya buat pelepas nafsu yagn tersebut. Tetapi semua “bidadari-bidadari” itu bidadari  “Islam”, bidadari yang tak melanggar syarak agama. Kalau tuan ingin melepaskan tuan punya birahi kepada salah seorang dari mereka, maka adalah sseorang penghulu yang akan menikahkan tuan lebih dulu dengan dia buat satu malam. Satu malam tuan punya isteri yang sah, satu malam tuan boleh berkumpul dengan dia zonder melanggar larangan zina. Keesokan harinya bolehlah tuan menjatuhkan talak tiga pada tuan punya kekasih itu tadi! Dia mendapat “nafkah” dan “mas kawin” dari tuan, dan mas penghulupun dapat persen dari tuan. Mas penghulu ini barang kali malahan berulang-ulang juga mengucapkan syukur kepada Tuhan, bahwa Tuhan telah memperkenankan dia berbuat satu kebijakan, yakni menghindari dua anak Adam dari pada dosanya perzinahan!

Tidaklah benar perkataan saya, bahwa ini bernama main kikebu dengan Tuhan, atau main mengabui mata Tuhan? Perungklukan, persundalan, perzinahan, di “putarkan” menjadi perbuatan yang halal!Tetapi juga : tidakkah benar ini hanya satu faset saja dari gambarnya masyarakat kita seluruhnya, yang lebih mementingkan fiqih saja, haram-makruh saja, dari pada “intrisieke waarden” yang lain-lain?

Ach, saya meniru perkataan budiman Kwaja Kamaludin : alangkah baiknya kita disampingnya fiqih itu mempelajari juga dengan sungguh ethieknya Qur’an, intrinsieke waardenya Qur’an. Alangkah baiknya pula kita meninjau sejarah yang telah lampau, mempelajari sejarah itu, melihat dimana letaknya garis menarik dan dimana letaknya garis menurun dari masyarakat Islam, akan menguji kebenaran perkataan Prof.Tor Andrea yang mengatakan bahwa juga Islam terkena fatum kehilangan jiwanya yang dinamis, sesudah lebih ingat kepada ia punya sistem perundang-undangan dari pada kepada ia punya ajaran jiwa. Dulunya dari dulu Endeh pernah saya tuliskan :”umumnya kita punya kiyai-kiyai dan kita punya ulama-ulama tak ada sedikitpun “feeling” kepada sejarahnya”, ya, boleh saya katakan kebanyakan tak mengetahui sedikitpun dari sejarah itu. Mereka punya minat hanya menuju kepada agama khususnya saja, dan dari agama ini, terutama sekali bagian fiqih. Sejarah, apalagi bagian “yang lebih dalam”, yakni yang mempelajari kekuatan-kekuatan masayarakat yang menyebabkan kemajuankeamajuan atau kemundurannya sesuatu bangsa, sejarah itu sama sekali tidak menarik mereka punya perhatian. Padahal disini, disinilah padang penyelidikan yang maha penting! Apa sebab mumdur? Apa sebab bangsa ini dizaman ini begini? Apa sebab bangsa itu dizaman itu begitu?Inilah pertanyaan-pertanyaan maha penting yang harus berputar, terus menerus di dalam kita punya ingatan,kalau kita mempelajari naik turunya sejarah itu.

Tetapi bagaimana kita punya kiyai-kiyai dan ulama-ulama? Tajwid membaca Qur’an, hafadz ratusan hadis, mahir dakam ilmu syarak, tetapi pengetahuan tentang sejarah umumnya nihil. Paling mujur mereka hanya mengetahui “tarich Islam” saja, dan inipun terambil dari buku-bukunya tarich Islam yang kuno, yang tak dapat tahan ujiannya ilmu pengetahuan modern!

Padahal dari tarich Islam inipun saja mereka sudah akan dapat menggali juga banyak ilmu yang berharga. Kita umumnya mempelajari hukum, tetapi tidak mempelajari caranya orang dulu menafsirakan hukum itu.

Kita cakap mengaji Qur’an seperti orang maha guru di Mesir, kita kenal isinya kitab-kitab fiqih seperti seorang adfokat kenal isinya ia punya kitab hukum perdata, kita mengetahui tiap-tiap perintah agama dan tiap-tiap larangan agama sampai yang sekecil-kecilnyapun juga, tetapi kita tidak mengetahui betapa caranya Nabi, sahabat-sahabatnya, tabiin-tabiin, kholifah-kholifah dan mentafsirkan perintah dan larangan-larangan itu didalam urusan sehari-hari dan didalam urusannya negara. Kita sama sekali gelap dan buta buat didalam hal mentafsirkan itu, oleh karena tidak mengenal tarich.

Dan apakah Pengajaran Besar, yang rarich itu kasihkan kepada kita? Pengajaran Besar tarich ini ialah, bahwa Islam di zamannya yang pertama dapat terbang meninggi seperti burung garuda diatas angkasa, oleh karena fiqih tidak berdiri sendiri, tetapi ialah disertai dengan tauhid dan ethieknya Islam yang menyala-nyala. Fiqih  pada waktu itu hanyalah “kendaraan” saja, tetapi kendaraan ini dikusiri oleh Rohnya Ethiek Islam serta Tuhid yang hidup, dan ditarik oleh kuda sembrani yang diatas tubuhnya ada tertulis ayat Qur’an : ”Jangan kau lembek dan jangan kamu mengeluh, sebab kamu akan menang, asal kamu mukmin sejati”. Fiqih ditarik oleh Agama Hidup, dikendarai Agama Hidup, disemangati Agama Hidup : Roh Agama Hidup yang berapi-api dan menyala-nyala! Dengan fiqih yang demikian itulah umat Islam menjadi cakrawati diseparuh dunia!

Tetapi apakah pula kebalikan dari Pengajaran Besar ini? Kebalikannya Pengajaan Besar ini ialah Pengajaran Besar pula yang tarich itu menghasilkan kepada kita didalam periodenya yang kedua, Pengajaran Besar, bahwa sejak Islam studie dijadikan fiqh studie ini mendapat kedudukan sentral didalam Islam studie itu, disitulah garis kenaikan itu menjadi membelok dibawah, menjadi garis yang menurun. Disitulah Islam lantas “membeku” menurut katanya Essad Bey, membeku menjadi satu sistem formil belakang. Lenyaplah ia punya tenaga yang hidup itu, lenyaplah ia punya jiwa penarik, lenyaplah ia punya ketangkasan yang meningkatkan kepada ketangkasan yang mengingatakan kepada ketangkasan harimau. Kendaraan tiada lagi ia punya kuda,tiada lagi ia punya kusir. Ia tiada bergerak lagi, ia mandek!

Dan bukanlah saja mandek! Kendaraan madek lama-lamapun menjadi amoh. Fiqh bukan lagi menjadi petunjuk dan pembatas hidup,fiqh kini kadang-kadang menjadi penghalangnya perbuatan-perbuatan kaum Soontoolooyoo!

Maka benarkah perkataan Halide Edib Hanum, bahwa Islam dizaman akhir-akhir ini “bukan lagi agama pemimpin hidup, tetapi agama pokrol bambu”.

Jikalau umat Islam tetap tidak mengindahkan Pengajaran-pengajaran Besar sejarahnya sendiri, jikalau pemuka-pemuka Islam di Indonesia tidak mengikuti jejaknya pemimpin-pemimpin besar di negeri lain seperti Muhammad Ali, Farid Waddji, Kwadja Kamaludin, Amir Ali dll, yang menghendaki satu  geestelijke wedergeboote (kebangunan roh baru) di dalam dunia Islam, jikalau pemuka-pemuka kita itu hanya mau bersifat ulama-ulama fiqh saja dan bukan pemimpin kejiwaan sejati, maka janganlah ada harapan umat Islam Indonesia akan dapat mempunyai Kekuatan Jiwa atau Kekuatan jiwa yang hebat untuk menjunjung dirinya dari keadaan aib yang sekarang ini.

Janganlah kita ada harapan dapat mencapai persanggupanya Allah yang tertulis diatas tubuhnya kuda sembrani tadi itu.

Janganlah kita kira sudah mukmin tetapi hendaklah kita insaf, bahwa banyak diaklangan kita yang Islamnya Islam sontoloyo!


 Soekarno : Islam Sontoloyo, Panji Islam, 1940.

Memahami Islam : Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara (2 akhir) - Tulisan Bung Karno

0 comments

Ya, dulu “zaman Madinah”, – kini zaman 1940. Di dalam ciptaan kita nampaklah Nabi duduk dengan sahabat-sahabatnya di dalam rumah­nya. Hawa sedang panas terik, tidak ada kipas listrik yang dapat menyegarkan udara, tidak ada es yang dapat menyejukkan kerongkongan, Nabi tidak duduk di tempat penerimaan tamu yang biasa, tetapi bersan­darlah Ia kepada sebatang puhun kurma tidak jauh dari rumahnya itu.

Wajah mukanya yang berseri-seri itu nampak makin sedaplah karena rambutnya yang berombak-ombak dan panjang, tersisir rapih ke belakang, sampai setinggi pundaknya. Sorot matanya yang indah itu seakan-akan “mimpi”, – seperti memandang kesatu tempat yang jauh sekali dari alam yang fana ini, melayang-layang di satu alam-gaib yang hanya dikenali Tuhan.

Maka datanglah orang-orang tamunya, orang-orang Madinah atau luar ­Madinah, yang sudah masuk Islam atau yang mau masuk Islam. Mereka semuanya sederhana, semuanya membawa sifatnya zaman yang kuno itu. Rambutnya panjang-panjang, ada yang sudah sopan, ada yang belum sopan. Ada yang membawa panah, ada yang mendukung anak, ada yang jalan kaki, ada yang naik onta, ada yang setengah telanjang. Mereka datanglah minta keterangan dari hal pelbagai masalah agama, atau minta petunjuk ditentang pelbagai masalah dunia sehari-hari. Ada yang mena­nyakan urusan ontanya, ada yang menanyakan urusan pemburuan, ada yang mengadukan hal pencurian kambing, ada yang minta obat, ada yang minta didamaikan perselisihannya dengan isteri di rumah.

Tetapi tidak seorang­pun menanyakan boleh tidaknya menonton bioskop, boleh tidaknya mendirikan bank, boleh tidaknya nikah dengan perantaraan radio, tidak seorang­pun membicarakan hal mobil atau bensin atau obligasi bank atau telegraf atau kapal-udara atau gadis menjadi dokter …

Nabi mendengarkan segala pertanyaan dan pengaduan itu dengan tenang dan sabar, dan mengasihlah kepada masing-masing penanya jawabnya dengan kata-kata yang menuju terus ke dalam rokh-semangatnya semua yang hadir.
Di sinilah syari’atul Islam tentang masyarakat lahir kedunia, di sinilah buaian wet kemasyarakatan Islam yang nanti akan dibawa oleh zaman turun-temurun, melintasi batasnya waktu dan batasnya negeri dan samudra.

Di sinilah Muhammad bertindak sebagai pembuat wet, bertindak sebagai wetgever, dengan pimpinannya Tuhan, yang kadang-kadang langsung mengasih pimpinannya itu dengan ilham dan wahyu.

Wet ini harus cocok dan mengasih kepuasan kepada masyarakat di waktu itu, dan cukup “karat”, – cukup elastis, cukup supel, – agar dapat tetap dipakai sebagai wet buat zaman-zaman di kelak kemudian hari. Sebab Nabi, di dalam maha-kebijaksanaannya itu insyaflah, bahwa Ia sebenarnya tidak mengasih jawaban kepada si Umar atau si Zainab yang duduk di hadapannya di bawah puhun kurma pada saat itu sahaja, – Ia insyaf, bahwa Ia sebenarnya mengasih jawaban kepada Seluruh Peri- kemanusiaan.

Dan seluruh peri kemanusiaan, bukan sahaja dari zamannya Nabi sendiri, tetapi juga seluruh peri kemanusiaan dari abad-abad yang ke­mudian, abad kesepuluh, abad keduapuluh, ketigapuluh, keempatpuluh, kelimapuluh dan abad-abad yang masih kemudian-kemudian : Lagi yang masyarakatnya sifatnya lain, susunannya lain, kebutuhannya lain, hukum perkembangannya lain.

Maka di dalam maha-kebijaksanaan Nabi itu, pada saat Ia mengasih jawaban kepada si Umar dan si Zainab di bawah puhun kurma hampir seribu empat ratus tahun yang lalu itu, Ia adalah juga mengasih jawaban kepada kita. Kita, yang hidup ditahun 1940! Kita, yang hajat kepada radio dan listrik, kepada sistim politik yang modern dan hukum-hukum ekonomi yang modern, kepada kapal-udara dan telegraf, kepada bioskop dan universitas!

Kita, yang alat-alat penyenangkan hidup kita berlipat­-lipat ganda melebihi jumlah dan kwaliteitnya alat-alat hidup si Umar dan si Zainab dari bawah puhun kurma tahadi itu, yang masalah-masalah hidup kita berlipat-lipat ganda lebih sulit, lebih berbelit-belit, daripada si Umar dan si Zainab itu. Kita yang segala-galanya lain dari si Umar dan si Zainab itu.

Ya, juga kepada kita! Maka oleh karena itulah segala ucapan-ucapan Muhammad tentang hukum-hukum masyarakat itu bersifat syarat-syarat minimum, yakni tuntutan-tuntutan “paling sedikitnya”, dan bukan tuntutan-tuntutan yang “musti presis begitu”, bukan tuntutan ­tuntutan yang mutlak. Maka oleh karena itulah Muhammad bersabda pula, bahwa ditentang urusan dunia “kamulah lebih mengetahui”. 

Halide Edib Hanum kira-kira limabelas tahun yang lalu pernah menulis satu artikel di dalam surat-surat-bulanan “Asia”. Yang antaranya ada berisi kalimat: “Di dalam urusan ibadat, maka Muhammad adalah amat keras sekali.
Tetapi di dalam urusan yang lain, di dalam Ia punya sistim masya­rakat, Ia, sebagai seorang wetgever yang jauh penglihatan, adalah menga­sih hukum-hukum yang sebenarnya “liberal”. Yang membuat hukum-­hukum masyarakat itu menjadi sempit dan menyekek nafas ialah con­sensus ijma’ ulama.”


Renungkanlah perkataan Halide Edib Hanum ini. Hakekatnya tidak berbedaan dengan perkataan Sajid Amir All tentang “kekaretan” wet-wet Islam itu, tidak berbedaan dengan pendapatnya ahli-tarikh-ahli-tarikh yang kesohor pula, bahwa yang membuat agama menjadi satu kekuasaan reaksioner yang menghambat kemajuan masyarakat manusia itu, bukan­lah pembikin agama itu, bukanlah yang mendirikan agama itu, tetapi ialah ijma’nya ulama-ulama yang terkurung di dalam tradisi-pikiran ijma’-ijma’ yang sediakala.

Maka jikalau kita, di dalam abad keduapuluh ini, tidak bisa mengunyah dengan kita punya akal apa yang dikatakan kita punya oleh Nabi kepada si Umar dan si Zainab di bawah puhun kurma hampir seribu empat ratus tahun,- jikalau kita tidak bisa mencernakan dengan akal apa yang disabdakan kepada si Umar dan si Zainab itu di atas basisnya perbandingan-perbandingan abad keduapuluh dan kebutuhan-kebutuhan  abad keduapuluh, – maka janganlah kita ada harapan menguasai dunia, seperti yang telah difirmankan oleh Allah Ta’ala sendiri di dalam surat-surat ayat 29.

Janganlah kita ada pengiraan, bahwa kita me­warisi pusaka Muhammad, sebab yang sebenarnya kita warisi hanyalah pusaka ulama-ulama faqih yang sediakala sahaja.

Di dalam penutup saya punya artikel tentang “Memudakan Pengertian Islam”saya sudah peringatkan pembaca, bahwa segala hal itu boleh asal tidak nyata dilarang.

Ambillah kesempatan tentang bolehnya segala hal ini yang tak ter­larang itu, agar supaya kita bisa secepat-cepatnja mengejar zaman yang telah jauh meninggalkan kita itu. Dari tempat-tempat-interniran saya yang terdahulu, dulu pernah saya serukan via tuan A. Hassan dari Per­satuan Islam, di dalam risalah kecil “Surat-surat Islam dari Endeh”:

“Kita tidak ingat, bahwa masyarakat itu adalah barang yang tidak diam, tidak tetap, tidak “mati”, – tetapi hidup mengalir, berobah senantiasa, maju, dinamis, ber-evolusi. Kita tidak ingat, bahwa Nabi s.a.w. sendiri telah menjadikan urusan dunia, menyerahkan kepada kita sendiri perihal urusan dunia, membenarkan segala urusan dunia yang baik dan tidak nyata haram atau makruh.

Kita royal sekali dengan perkataan “kafir”, kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap “kafir”. Pengetahuan Barat – kafir; radio dan kedokteran – kafir; sendok dan garpu dan kursi – kafir; tulisan Latin – kafir; yang bergaulan dengan bangsa yang bukan bangsa Islam-pun – kafir!

Padahal apa,- apa yang kita namakan Islam? Bukan Rokh Islam yang berkobar-kobar, bukan Amal Islam yang mengagumkan, tetapi … dupa dan karma dan jubah dan celak mata! Siapa yang mukanya angker, siapa yang tangan­nya bau kemenyan, siapa yang matanya dicelak dan jubalmya panjang dan menggenggam tasbih yang selalu berputar, – dia, dialah yang kita namakan Islam.

Astagafirullah, inikah Islam? Inikah agama Allah? Ini? Yang mengkafirkan pengetahuan dan kecerdasan, mengkafirkan radio dan listrik, mengkafirkan kemoderenan dan ke-uptodate-an? Yang mau tinggal mesum sahaja, tinggal kuno sahaja, tinggal terbelakang sahaja, tinggal “naik onta” dan “makan zonder sendok” sahaja, seperti di zaman Nabi-nabi.

Islam is progress, - Islam itu kemajuan, begitulah telah saya tuliskan di dalam salah satu surat saya yang terdahulu. Kemajuan karena fardhu, kemajuan karena sunah, tetapi juga kemajuan karena diluaskan dan dilapangkan oleh jaiz atau mubah yang lebarnya melampaui batasnya­ zaman.

Progress berarti barang baru, yang lebih tinggi tingkatnya daripada barang yang terdahulu. Progress berarti pembikinan baru, ciptaan baru, creation baru,- bukan mengulangi barang yang dulu, bukan mengcopy barang yang lama.

Di dalam politik Islam-pun orang tidak boleh mengcopy sahaja barang-barang yang lama, tidak boleh mau mengulangi sahaja segala sistim-sistimnya zaman “khalifah-khalifah yang ‘besar”. Kenapa orang-orang Islam di sini selamanya menganjurkan political system “seperti di zamannya khalifah-khalifah besar” itu?

Tidakkah di dalam langkahnya zaman yang lebih dari seribu tahun itu peri-kemanusiaan mendapatkan sistim-sistim baru yang lebih sempurna, lebih bijaksana, lebih tinggi tingkatnya daripada dulu? Tidakkah zaman sendiri menjel­makan sistim-sistim baru yang cocok dengan keperluannya, – cocok dengan keperluan zaman itu sendiri? Apinya zaman “khalifah-khalifah yang besar” itu?

Akh, lupakah kita, bahwa api ini bukan mereka yang menemukan, bukan mereka yang “menganggitkan”? Bahwa mereka “menyutat” sahaja api itu dari barang yang juga kita di zaman sekarang mempunyainya, yakni dari Kalam Allah dan Sunahnya Rasul?

Tetapi apa yang kita “cutat” dari Kalam Allah dan Sunah Rasul itu? Bukan apinya, bukan nyalanya, bukan! Abunya, debunya, akh ya, asapnya! Abunya yang berupa celak mata dan sorban, abunya yang menyintai ke­menyan dan tunggangan onta, abunya yang bersifat Islam-muluk dan Islam ibadat-zonder-taqwa, abunya yang cuma tahu baca Fatihah dan tahlil sahaja,- tetapi bukan apinya, yang menyala-nyala dari ujung zaman yang satu keujung zaman yang lain.”

Begitulah saya punya seruan dari Endeh. Marilah kita camkan di­ dalam kita punya akal dan perasaan, bahwa kini bukan masyarakat onta, tetapi masyarakat kapal-udara. Hanya dengan begitulah kita dapat me­nangkap inti arti yang sebenarnya dari warta Nabi yang mauludnya kita rayakan ini hari.

Hanya dengan begitulah kita dapat menghormati Dia di dalam artinya penghormatan yang hormat sehormat-hormatnya. Hanya dengan begitulah kita dengan sebenar-benarnya boleh menamakan diri kita umat Muhammad, dan bukan umat kaum faqih atau umat kaum ulama.

Pada suatu hari saya punya anjing menjilat air di dalam panci di­ dekat sumur. Saya punya anak Ratna Juami berteriak: “Papie, papie, si Ketuk menjilat air di dalam panci!” Saya menjawab: “Buanglah air itu, dan cucilah panci itu beberapa kali bersih-bersih dengan sabun dan kreolin.”

Ratna termenung sebentar. Kemudian ia menanya: “Tidakkah Nabi bersabda, bahwa panci ini musti dicuci tujuh kali, diantaranya satu kali dengan tanah?”

Saya menjawab: “Ratna, di zaman Nabi belum ada sabun dan kreolin! Nabi waktu itu tidak bisa memerintahkan orang memakai sabun dan kreolin.” Muka Ratna menjadi terang kembali. Itu malam ia tidur dengan roman muka yang seperti bersenyum, seperti mukanya orang yang mendapat kebahagiaan besar.

Maha-Besarlah Allah Ta’ala, maha-mulialah Nabi yang Ia suruh!



Untuk baca bagian awal klik  Soekarno - Memahami Islam : Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara (1)




Soekarno - Memahami Islam : Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara
(“Panji Islam”, 1940)

Konsultasi atau Mengundang Bung Fasial?